Budi Prasetyo mengatakan operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK selama ini merupakan pintu masuk (entry point) untuk mengungkap perkara yang lebih luas. Setelah OTT dilakukan, penyidik akan mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain, termasuk menelusuri alur perintah, aliran uang, maupun sektor lain yang diduga berkaitan dengan tindak pidana korupsi.
"Tangkap tangan itu selalu menjadi entry point. Kita masuk, kita akan melihat lebih luas dan lebih dalam lagi apakah masih ada pihak-pihak lain yang punya peran krusial; baik dari alur perintahnya, aliran uangnya, ataupun sektor-sektor lain yang juga terindikasi korupsi," ujar Budi.
Ia menambahkan, selain OTT, laporan masyarakat juga menjadi salah satu sumber informasi penting bagi KPK dalam mengungkap dugaan tindak pidana korupsi. Informasi tersebut selanjutnya diverifikasi dan ditindaklanjuti melalui proses penyelidikan hingga penyidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Dalam perkara dugaan korupsi di Muara Enim, KPK hingga kini telah menetapkan empat orang sebagai tersangka berdasarkan alat bukti yang dinilai cukup. Meski demikian, penyidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya pihak lain yang memiliki peran penting dalam perkara tersebut.
KPK mengungkap terdapat dua klaster utama dugaan tindak pidana korupsi yang sedang ditangani dalam perkara Muara Enim.
Klaster pertama berkaitan dengan dugaan suap dalam proses pengadaan barang dan jasa. Berdasarkan hasil penyidikan sementara, praktik suap diduga telah dilakukan jauh sebelum proses pengadaan dimulai. Kesepakatan tersebut diduga menjadi bagian dari upaya memenangkan proyek pemerintah sejak tahap awal perencanaan.
Klaster kedua berkaitan dengan dugaan suap terhadap temuan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Setelah proyek menjadi objek pemeriksaan dan ditemukan sejumlah penyimpangan, diduga terjadi pemberian suap kepada auditor untuk memengaruhi atau mengubah hasil temuan pemeriksaan.
"Korupsi terjadi jauh sebelum perencanaan, di mana mereka sudah tanam modal dan suap di awal. Kemudian, audit temuan BPK ada di ujung akhir, dan itu pun disuap untuk mengubah hasil," kata Budi.
Menurutnya, pola tersebut menunjukkan dugaan praktik korupsi yang berlangsung secara berjenjang, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan proyek, hingga proses pengawasan dan audit.
KPK kini juga mendalami dugaan penyimpangan selama pelaksanaan proyek. Penyidik menilai terdapat indikasi berbagai bentuk pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara.
Beberapa dugaan yang tengah didalami antara lain praktik penggelembungan anggaran (mark-up), penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi (down-spec), hingga dugaan manipulasi laporan pertanggungjawaban proyek.
Budi mengatakan, adanya dugaan suap pada tahap awal maupun akhir proyek menjadi dasar bagi penyidik untuk menelusuri seluruh proses pelaksanaan pekerjaan. Pendalaman dilakukan guna memastikan apakah terdapat penyimpangan lain yang turut memperkaya pihak tertentu atau merugikan keuangan negara.
KPK menegaskan penyidikan perkara dugaan korupsi di Muara Enim masih terus berjalan. Lembaga antirasuah itu memastikan akan menelusuri seluruh rangkaian peristiwa, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain yang memiliki peran penting dalam proses pengambilan keputusan maupun aliran dana.
Melalui pengungkapan perkara ini, KPK kembali mengingatkan pentingnya penguatan sistem pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran pemerintah, khususnya pada sektor pengadaan barang dan jasa yang masih menjadi salah satu area rawan terjadinya tindak pidana korupsi.
Hingga saat ini, KPK menyatakan akan terus menyampaikan perkembangan penyidikan kepada publik sesuai dengan hasil proses hukum yang sedang berjalan dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(LC)
