Dalam penyampaiannya, ASN yang baru bertugas sejak September lalu itu mengaku "kena mental" melihat realita di lapangan. Ia menyoroti minimnya fasilitas seperti pagar sekolah, lapangan upacara, hingga ketiadaan dermaga bagi siswa yang mayoritas menggunakan jalur laut.
"Sekitar 75% siswa kami menggunakan jalur laut. Kami butuh dermaga sekitar 50 meter. Selama ini, saat membawa sarana seperti kursi atau buku LKS, kami harus kehujanan di tengah laut karena tidak ada dermaga," ungkapnya dengan nada emosional. Ia bahkan mengaku sempat menangis melihat sulitnya akses jalan menuju tempatnya mengabdi.
Mendengar keluhan tersebut, Anggota DPRD Muara Enim, Mukarto, yang hadir dalam forum tersebut memberikan respons tegas. Ia mengingatkan bahwa seorang ASN telah bersumpah untuk siap ditempatkan di mana saja dan melayani masyarakat dalam kondisi apa pun.
"Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara, jangan pernah mengeluh di mana pun ditugaskan. Tugas itu harus diterima dengan ikhlas sebagai bentuk pengabdian diri kepada masyarakat," tegas Mukarto di hadapan peserta Musrenbang.
Mukarto menekankan bahwa dedikasi seorang abdi negara diuji ketika menghadapi medan yang sulit. Menurutnya, tantangan infrastruktur memang menjadi fokus pemerintah, namun semangat melayani tidak boleh luntur hanya karena kondisi geografis.
Meski memberikan teguran terkait sikap mental ASN tersebut, pihak legislatif tetap mencatat aspirasi mengenai infrastruktur yang diajukan. Selain dermaga sepanjang 50 meter, usulan penimbunan lahan sekolah yang sering terendam banjir dan pembangunan pagar pengaman tetap menjadi poin diskusi dalam rencana pembangunan kecamatan tahun anggaran mendatang.
Pihak sekolah berharap, meskipun ada teguran terkait sikap profesionalisme, kebutuhan mendasar bagi para siswa di wilayah perairan Muara Belida tetap menjadi prioritas pemerintah daerah demi kelancaran proses belajar mengajar. (Red)

