‎Harga Karet di Lembak Melonjak, Petani Mulai Tersenyum Namun Masih Dibayangi Kekhawatiran

Post Views:

‎Muara Enim – Kabar menggembirakan datang bagi para petani karet di Kabupaten Muara Enim, khususnya di Desa Lembak. Memasuki pekan ketiga Mei 2026, harga getah karet mengalami lonjakan cukup signifikan setelah sebelumnya berada dalam kondisi yang tidak menentu.
‎Kenaikan harga tersebut menjadi angin segar bagi para petani yang selama beberapa waktu terakhir harus menghadapi rendahnya nilai jual hasil sadapan. Saat ini, harga penjualan getah karet sistem dua mingguan dilaporkan telah mencapai Rp19.000 per kilogram. Sementara untuk sistem penjualan bulanan, harga bahkan menyentuh angka Rp23.000 per kilogram.
‎Lonjakan harga tidak hanya terjadi di Desa Lembak, tetapi juga dirasakan di sejumlah wilayah sentra penghasil karet lainnya di Kabupaten Muara Enim, seperti Kecamatan Gelumbang, Belida Darat, Kelekar, serta sejumlah daerah sekitar lainnya.
‎Goro Rahman, yang merupakan pengumpul sekaligus petani karet di Desa Lembak, mengatakan kondisi saat ini cukup berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Menurutnya, selama ini harga karet di wilayah Kecamatan Lembak cenderung berada di bawah harga pasaran beberapa daerah lain.
‎"Pada Mei 2026 ini kondisinya cukup berbeda. Harga karet di wilayah kami justru mengalami peningkatan cukup tinggi dan membuat semangat para petani perlahan kembali tumbuh," ujarnya.
‎Ia menjelaskan, sebelumnya harga karet mingguan hanya berada di kisaran Rp14.000 per kilogram. Namun saat ini harga mengalami peningkatan hingga mencapai Rp19.000 per kilogram.
‎Sementara itu, untuk penjualan di luar sistem koperasi atau penjualan pinggiran, harga masih berkisar di angka Rp18.000 per kilogram. Para petani juga disarankan menjual hasil karetnya melalui KUD Serasan Jaya karena dinilai memberikan harga lebih kompetitif, akurasi timbangan yang lebih terjamin, serta sistem potongan yang disesuaikan dengan kualitas karet.
‎Meski harga menunjukkan tren positif, para petani mengaku masih dihadapkan pada berbagai tantangan di lapangan. Cuaca yang sulit diprediksi dan tingginya intensitas hujan menyebabkan hasil sadapan getah menurun sehingga produksi belum maksimal.
‎Selain faktor cuaca, para petani juga mengaku masih dihantui kekhawatiran terkait maraknya pencurian getah atau "jedolan" di area perkebunan karet yang berpotensi merugikan para pemilik kebun.
‎Di tengah berbagai tantangan tersebut, sebagian besar petani di Desa Lembak tetap memilih bertahan dengan komoditas karet. Selain telah menjadi sumber penghidupan masyarakat secara turun-temurun, tanaman karet dinilai masih menjadi komoditas yang paling sesuai dengan kondisi wilayah Kabupaten Muara Enim yang dikenal sebagai Bumi Serasan Sekundang.
‎Kenaikan harga saat ini memang belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan. Namun setidaknya, kondisi tersebut menjadi secercah harapan baru di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok yang terus dirasakan masyarakat pedesaan.

Tag:
Berita Terbaru
  • ‎Harga Karet di Lembak Melonjak, Petani Mulai Tersenyum Namun Masih Dibayangi Kekhawatiran
  • ‎Harga Karet di Lembak Melonjak, Petani Mulai Tersenyum Namun Masih Dibayangi Kekhawatiran
  • ‎Harga Karet di Lembak Melonjak, Petani Mulai Tersenyum Namun Masih Dibayangi Kekhawatiran
  • ‎Harga Karet di Lembak Melonjak, Petani Mulai Tersenyum Namun Masih Dibayangi Kekhawatiran
  • ‎Harga Karet di Lembak Melonjak, Petani Mulai Tersenyum Namun Masih Dibayangi Kekhawatiran
  • ‎Harga Karet di Lembak Melonjak, Petani Mulai Tersenyum Namun Masih Dibayangi Kekhawatiran
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Tutup Iklan